Gelombang Protes Anti-Perang Meluas di Spanyol, Ribuan Warga Turun ke Jalan Tuntut Hentikan Konflik Timur Tengah

Dalam deklarasi tertulis yang dibacakan saat aksi, para demonstran mengecam operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
MADRID — TintaHukumInvestigasi.com | Gelombang protes menentang konflik di Timur Tengah meluas di berbagai wilayah Spanyol. Aksi demonstrasi dilaporkan berlangsung di lebih dari 150 kota dengan ribuan warga turun ke jalan menuntut penghentian perang dan penegakan hukum internasional.
Mengutip kantor berita Rusia, RIA Novosti, Minggu (15/3/2026), sekitar 5.000 orang berkumpul di kawasan stasiun Madrid Atocha Railway Station. Massa kemudian bergerak menuju Museo Nacional Centro de Arte Reina Sofía, museum yang menyimpan lukisan terkenal Guernica karya Pablo Picasso—sebuah simbol seni anti-perang yang mendunia.
Dalam aksi tersebut, para demonstran membawa berbagai spanduk dan meneriakkan slogan seperti “Tidak untuk perang”, “Tidak untuk NATO”, serta “Setop Perang Timur Tengah. Jangan Lupakan Gaza”.
Aksi nasional ini diketahui mendapat dukungan lebih dari 100 kelompok sipil serta sejumlah partai politik di Spanyol.
Dalam deklarasi tertulis yang dibacakan saat aksi, para demonstran mengecam operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
“Tidak ada yang membenarkan pemboman brutal yang menimbulkan ancaman serius bagi perdamaian kawasan dan keamanan global. Kami mendesak semua pihak untuk menjunjung tinggi hukum internasional dan mengupayakan perdamaian yang adil dan langgeng di Timur Tengah, termasuk mengakhiri genosida di Gaza,” demikian isi pernyataan para demonstran.
Selain di Madrid, aksi protes juga terjadi di sejumlah kota besar seperti Barcelona, Seville, Zaragoza, Santander, dan Córdoba.
Sementara itu, pada Jumat (13/3/2026), Kedutaan Besar Amerika Serikat di Spanyol mengimbau warganya untuk menghindari kerumunan massa karena potensi aksi protes lanjutan. Peringatan tersebut menyebutkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah dapat “meningkat dengan cepat”.
Sebelumnya, operasi militer gabungan yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari dilaporkan menargetkan sejumlah fasilitas di Iran. Salah satu serangan disebut mengenai sekolah perempuan yang mengakibatkan korban jiwa ratusan siswi.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan turut menjadi korban dalam serangan tersebut. Otoritas Iran memperkirakan jumlah korban tewas akibat serangan mencapai lebih dari 1.300 jiwa.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan dengan menargetkan wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang terus meningkat ini memicu kekhawatiran masyarakat internasional akan meluasnya perang di kawasan dan dampaknya terhadap stabilitas global.
Editor : Yoyon Agus H.




Posting Komentar