Minim Lapangan Kerja, Ratusan Warga Tuban Pilih Jadi PMI demi Bertahan Hidup

Gambar Ilustrasi : Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 344 warga Tuban berangkat menjadi PMI ke berbagai negara. Dari jumlah tersebut, 154 orang melalui skema private to private (P2) lewat Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI), sedangkan 190 lainnya berangkat melalui jalur mandiri dan program government to government (G2G).

TUBAN
TintaHukumInvestigasi.com | Keterbatasan lapangan pekerjaan di dalam negeri mendorong sebagian warga Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mencari peluang ke luar negeri. Bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan menjadi jalan cepat untuk bertahan hidup dan memperbaiki taraf ekonomi.

Fenomena ini tercermin dari meningkatnya jumlah PMI asal Bumi Ronggolawe dalam beberapa waktu terakhir. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerin) Tuban, Rohman Ubaid, menyebut dorongan utama warga adalah kebutuhan mendesak للحصول pekerjaan.

“Diperkirakan karena mereka termotivasi untuk segera mendapatkan kerja, sehingga terbesit untuk mencari kerja di luar negeri,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 344 warga Tuban berangkat menjadi PMI ke berbagai negara. Dari jumlah tersebut, 154 orang melalui skema private to private (P2) lewat Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI), sedangkan 190 lainnya berangkat melalui jalur mandiri dan program government to government (G2G).

Tren tersebut masih berlanjut pada 2026. Hingga akhir Februari, sebanyak 22 calon PMI asal Tuban tengah menjalani proses pemberangkatan ke luar negeri.

Sebelum diberangkatkan, para calon pekerja migran diwajibkan mengikuti berbagai tahapan pelatihan. Mulai dari peningkatan keterampilan kerja hingga kesiapan fisik dan mental, guna memastikan mereka mampu bersaing dan bertahan di negara tujuan.

Di sisi lain, peta negara tujuan PMI asal Tuban mulai mengalami perubahan. Malaysia yang sebelumnya menjadi tujuan utama kini tidak lagi mendominasi. Hal ini dipengaruhi kebijakan moratorium di sejumlah sektor yang sempat diberlakukan negara tersebut.

“Malaysia yang dulunya tujuan terbanyak, sekarang mengalami penurunan karena ada moratorium di beberapa sektor. Namun, saat ini sektor perkebunan dan asisten rumah tangga di sana mulai dibuka kembali,” jelas Rohman.

Sebagai gantinya, sejumlah negara seperti Taiwan, Hong Kong, Turki, dan Arab Saudi kini menjadi tujuan favorit para PMI asal Tuban.

Tak hanya negara tujuan, jenis pekerjaan yang digeluti juga mengalami pergeseran. Jika sebelumnya didominasi sektor domestik, kini para PMI mulai merambah sektor lain seperti konstruksi dan perhotelan.

Meski tren keberangkatan meningkat, Disnakerin Tuban menegaskan tetap melakukan pengawasan ketat, terutama dalam memastikan kelengkapan dokumen serta keamanan negara tujuan.

“Kami memiliki kewenangan pengendalian. Kami tidak akan memberikan rekomendasi untuk bekerja ke negara-negara yang sedang dalam kondisi konflik demi keselamatan warga,” tegasnya.

Di tengah sempitnya peluang kerja di dalam negeri, menjadi PMI memang menawarkan harapan baru bagi banyak warga. Namun di balik itu, pemerintah diharapkan tetap hadir untuk memastikan setiap pekerja migran mendapatkan perlindungan maksimal dan bekerja dalam kondisi yang aman serta layak.


Sumber : RadarTuban

Editor : Yoyon Agus H. 

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Minim Lapangan Kerja, Ratusan Warga Tuban Pilih Jadi PMI demi Bertahan Hidup
  • Minim Lapangan Kerja, Ratusan Warga Tuban Pilih Jadi PMI demi Bertahan Hidup
  • Minim Lapangan Kerja, Ratusan Warga Tuban Pilih Jadi PMI demi Bertahan Hidup
  • Minim Lapangan Kerja, Ratusan Warga Tuban Pilih Jadi PMI demi Bertahan Hidup
  • Minim Lapangan Kerja, Ratusan Warga Tuban Pilih Jadi PMI demi Bertahan Hidup
  • Minim Lapangan Kerja, Ratusan Warga Tuban Pilih Jadi PMI demi Bertahan Hidup

Posting Komentar

Ad
Ad